Sabtu, 08 Desember 2012

Apa Penyebab Produksi Telur Ayam Turun Drastis ?



Yang sekarang sedang ‘nge-trend’, penyakit utama penyebab turunnya produksi telur ayam layer, “Adalah AI dan ND,” ungkap peternak ayam petelur di daerah elit segitiga emas Pondok Indah-Bintaro-Bumi Serpong Damai Tangerang dan Jakarta Ricky Bangsaratoe. Terhadap AI (Avian Influenza) dan ND (New Castle Disease) ini, peternak sudah sangat familiar.


Sementara itu Drh Ratriastuti Koordinator Produksi dan Laboratorium Unit Barat (Jawa Barat, Banten, Lampung dan Sumatra Barat) PT Primatama Karyapersada (PKP) Layer mengungkap kasus pada banyak peternakan yang dijumpai adalah ND, IB (Infectious Bronchitis), juga Coryza. “Kemungkinan AI juga ada tapi belum dikonfirmasi laboratorium,” katanya seraya ada juga yang dicurigai ke AE (Avian Enchephalomyelitis).

Semua kasus itu menurut Drh Ratri menyebabkan penurunan produksi telur, bahkan ada yang sampai 20-30 persen. Manifestasi yang dijumpai bermacam-macam, seperti ada yang kerabang telurnya lembek, tidak bulat telur, pucat, pipih, mudah pecah, albumin bagian luar dan dalam sangat encer dan lain-lain. Dari semua kasus yang dijumpai ia mengaku angka kematian sudah jarang ada. Namun, “Penurunan produksi telur itu pasti,” katanya.

Ratriastuti menambahkan terhadap penyakit yang menyebabkan turunnya produksi telur itu diagnosa sering dikacaukan oleh begitu banyak persamaan manifestasi antara satu penyakit dengan penyakit lain. Pemeriksaan laboratorium, termasuk dengan titer antibodi, di sini pun mengambil peran dalam pemastian diagnosa.

Ditambahkan oleh Senior Manager Animal Health Kemitraan Jawa Timur PT Sierad Produce Drh Andy Tristijanto, penyebab turunnya produksi telur layer memang banyak. Penyakit-penyakit itu mulai dari penyakit viral (AI, IB, ND, EDS), penyakit bakterial (CRD) bahkan bisa mikotoksin.

Kemudian Direktur CV Bintang Mandiri Tasikmalaya Drh Teguh Budi Wibowo pun mengungkap beberapa penyakit yang dapat menurunkan produksi telur biasanya disebabkan oleh virus yaitu New Castle Disease, Avian Influenza, Infectious Bronchitis, Egg Drop Syndrome, dan lain lain. Katanya, “Faktor penyebab seperti ini dalam bahasa kedokteran hewan biasa disebut causa prima-nya adalah virus.”

Adapun sesungguhnya, hampir semua penyakit unggas khususnya ayam petelur, akan berpengaruh pada produksi telur. “Tapi di sini ada perbedaan persentase dan signifikansi yang besar,” kata seorang narasumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Senada dengan pendapat itu, Drh Surya Al Qamar dari FKH Unsyiah Banda Aceh mengatakan, sebenarnya hampir semua penyakit unggas menyebabkan penurunan produksi. Karena, ujarnya, “Ayam menjadi stres dan keseimbangan fisiologisnya terganggu termasuk keseimbangan dan pengaturan fungsi bertelur.”

Drh Surya menegaskan, untuk ayam petelur diperhatikan 2 masalah utama yaitu penyakit (infeksi atau non-infeksi) dan juga penurunan produksi karena malnutrisi (termasuk kesalahan pengaturan asupan gizi).

Hal yang sama juga diamini oleh Drh Heri Setiawan dari PT Wonokoyo Jaya Corporindo Surabaya Jawa Timur. “Penyebab utama turunnya produksi telur ayam petelur terbagi menjadi dua, yakni faktor infeksius (penyakit menular: AI, ND, IB, EDS’76, Fowl Cholera, CRD, Ascariasis dan lain-lain) dan faktor non infeksius (defisiensi vitamin, asam amino, mineral, intoksikasi, Aflatoksikosis dan lain-lain),” paparnya.

Selain itu, persentase dan signifikansi berbagai penyakit hendaknya dilihat sesuai dengan kenyataan lapangan. Ternyata penyakit penyebab turunnya produksi telur memang banyak. Meski, “Kalau dirunut dari nama penyakit ya tentunya EDS (Egg Drops Syndrom). Namanya saja sudah jelas,” kata narasumber lain yang tidak mau disebutkan namanya itu seraya berharap hal ini jangan dilihat dari aspek perdagangan obat hewan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar